Buserkpk.com | SAMBAS – Progres pembangunan peningkatan Daerah Irigasi (DI) Rawa Tebas Komplek atau kawasan Kebun Jeruk di Kabupaten Sambas terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga pertengahan Mei 2026, progres pekerjaan fisik proyek tersebut telah mencapai 35,7 persen dan pengawasan pelaksanaan proyek masih terus berjalan secara intensif.(15/5).

Proyek strategis yang berada di kawasan pertanian Tebas Sungai itu dikerjakan oleh PT Anugrah Bayuarya Perkasa dengan nilai kontrak sebesar Rp22,7 miliar dan masa pelaksanaan selama 210 hari kalender. Pekerjaan tersebut berada di bawah tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan I Pontianak.

Saat ini, pekerjaan fisik di lapangan telah memasuki tahap pengecoran saluran irigasi beton serta pemasangan batu kali sebagai penahan tanah di sejumlah titik pekerjaan. Pelaksanaan proyek juga diklaim tetap mengedepankan mutu dan kualitas konstruksi sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah ditetapkan.

Selain menjadi proyek infrastruktur pertanian, pembangunan irigasi tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sekitar 100 tenaga kerja dilibatkan dalam proyek ini, mayoritas merupakan pekerja konstruksi lokal yang berasal dari Desa Tebas Sungai, Kecamatan Semparuk, hingga sebagian wilayah Kecamatan Selakau Timur.

Konsultan pengawas proyek menjelaskan bahwa secara teknis pekerjaan masih berada dalam deviasi positif meskipun sempat mengalami hambatan akibat tingginya curah hujan selama Mei 2026.

“Progres saat ini mencapai 35,7 persen. Walaupun mulai bulan Mei ini pekerjaan sempat terhalang curah hujan sehingga debit air meningkat, kami tetap menargetkan sebelum Agustus 2026 struktur utama sudah mencapai sekitar 90 persen hingga batas akhir kontrak,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya pengawasan bersama dari berbagai unsur guna menghindari potensi penyimpangan dalam pelaksanaan proyek bernilai besar tersebut.

Menurutnya, selain pengawasan internal dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kementerian PUPR melalui BWS Kalimantan I Pontianak, pengawasan eksternal dari wartawan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), masyarakat, hingga aparat penegak hukum (APH) dinilai sangat penting untuk mendukung program pencegahan korupsi yang terus digalakkan pemerintah pusat maupun daerah.

Sementara itu, sejumlah petani jeruk di kawasan Tebas Komplek menyampaikan harapan besar terhadap keberhasilan proyek irigasi tersebut. Salah seorang petani yang enggan disebutkan namanya mengatakan keberadaan saluran dan pintu air baru akan sangat membantu stabilitas pasokan air bagi lahan pertanian mereka.

“Dengan saluran dan pintu air baru, air bisa diatur lebih baik saat musim kemarau maupun hujan. Ini penting untuk tanaman jeruk karena butuh kelembaban yang stabil supaya buah tidak mudah rontok,” ujarnya.

Ia menambahkan, sistem irigasi yang lebih baik juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat karena proses pemupukan dan perawatan kebun menjadi lebih efektif.

Selain itu, risiko banjir yang selama ini kerap menggenangi lahan pertanian juga diperkirakan dapat berkurang setelah proyek rampung. Sistem drainase dan saluran air yang diperbaiki dinilai mampu mempercepat pembuangan kelebihan air saat hujan deras.

“Petani di bagian hilir yang biasanya kekurangan air juga diharapkan bisa ikut merasakan manfaatnya. Intinya kalau proyek ini selesai sesuai jadwal, petani jeruk di Kebun Jeruk bisa lebih tenang mengurus kebunnya karena masalah air dan banjir berkurang,” ungkapnya.

Pembangunan peningkatan Daerah Irigasi Rawa Tebas Komplek sendiri menjadi salah satu proyek yang diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian dan perkebunan masyarakat di Kabupaten Sambas, khususnya dalam mendukung produktivitas komoditas jeruk yang selama ini menjadi andalan warga setempat.

 

(Liputan: Usman)

Editor/gun*